Archives for Nida’s Corner

Kitakah Lilin Itu?

image

Kitakah lilin itu?
Yang menerangi sekitarnya dan membiarkan dirinya terbakar?

Kitakah lilin itu?
Yang sibuk mengurusi aib orang lain dan lalai akan aib diri sendiri?

Kitakah lilin itu?
Yang sibuk menasehati orang dan lupa akan nasehat kepada diri sendiri?

Jika demikian adanya, kiranya nasehat Imam Syafi’i rahimahullah ini patut untuk kita renungkan, “Seseorang jika bersifat wara’ akan sibuk mengurusi aib sendiri daripada mengurusi aib orang lain sebagaimana orang yang sakit akan sibuk mengurusi sakitnya sendiri daripada mengurusi sakitnya orang lain.” (Diwan Asy Syafi’i)

Si Asing yang Langka

image

Suatu ketika Imam Sufyan Ats Tsauri rahimahullah pernah berkata, “Jika sampai (kabar) kepadamu tentang seseorang di arah timur ada pendukung sunnah dan yang lainnya di arah barat maka kirimkanlah salam kepadanya dan do’akanlah mereka. Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i dalam Syarhus Sunnah 1:64 dan Ibnul Jauzi dalam Talbisul Iblis hal.9).
Sufyan Ats Atsauri tidaklah hidup di zaman sekarang. Beliau rahimahullah adalah tabi’ut tabi’in yang hidup tahun 97-191 H. Zaman generasi keemasan di mana semangat pengamalan sunnah masih membara. Zaman di mana para penghafal hadits bertebaran dimana-mana.
Jika Sufyan Ats Tsauri menceritakan bahwa ahlus sunnah di zamannya sangat langka, bagaimanakah di zaman kita? Ketika maksiat merajalela, ketika menggenggam sunnah laksana menggenggam bara.
Maka pantaskah jika yang amat langka itu saling bermusuhan? Benarlah pepatah Arab yang disebutkan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad dalam risalahnya yang berjudul Rifqan Ahlassunnah bi Ahlissunnah. Al mushaghghar la yushaghghar. Ahlussunnah kian langka. Pantaskah permusuhan membuatnya menjadi tambah langka?

Referensi:

http://ummusalma.wordpress.com/2007/03/10/ahlus-sunnah-wal-jamaah/

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/28/sofyan-ats-tsauri-97-191-h/

http://moslemsunnah.wordpress.com/2011/01/11/berlemah-lembutlah-wahai-ahlus-sunnah-kepada-saudaramu-sesama-ahlus-sunnah-nasihat-terbaru-syaikh-abdul-muhsin-al-abbad/

Mesralah Pada Tempatnya

Awal-awal menjadi pengantin memang menyenangkan. Dunia serasa milik berdua (yang lain numpang, hehe…winking. Saking senangnya, kadang ada sebagian orang yang menampakkan kesenangannya pada siapa saja, termasuk pada teman-teman facebook (yang notabene dari berbagai kalangan dan usia). Walaupun sudah tidak menjadi pengantin baru, beberapa orang bahkan meneruskan kebiasaan mengumbar kemesraan di facebook ini.

Nah, sayangnya tidak semua orang ikut merasa senang melihat kemesraan ini. Ada yang merasa risih bin jengah, ada yang iri bin hasad, ada pula yang ingin sekali komentar, “Terus gue harus bilang wow gitu?” Hehe…

Standar orang memang berbeda-beda. Boleh jadi bagi si A suatu status yang berbau sayang-sayangan dengan pasangannya bukanlah mengumbar kemesraan. Akan tetapi bagi si B hal itu tidaklah patut dipertontonkan pada khalayak ramai, apalagi dalam dunia maya. Itulah yang seharusnya kita antisipasi. Tidak semua orang perlu tahu urusan kita. Tidak semua orang mau tahu urusan kita.

Syariat Islam yang mulia mengajarkan sifat malu. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits muttafaq ‘alaih yang artinya, “Sifat malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan”. Jika hal-hal yang sepantasnya dibawa ke ruang privasi tanpa harus mengumbarnya di muka publik, kenapa harus diumbar? Bukankah di setiap gadget yang kita punya ada fitur pesannya? Di HP ada fitur sms, di facebook ada fitur message, di email ada fitur compose mail, lalu kenapa kemesraan harus dipampang di wall? Aina haya’? Di manakah rasa malu?

Pernahkah terbersit dalam hati kita, bagaimana perasaan teman yang belum dianugerahi pasangan hidup? Akan semakin semangat untuk menikah? Syukurlah jika demikian. Akan tetapi bagaimana jika hal tersebut membuat kotor hati teman kita dengan perasaan iri dan dengki terhadap kita? Allahul Musta’an.

Kemesraan cukuplah disimpan pada tempatnya, ruang berprivasi yang hanya berisi kita dan pasangan kita.

Si Ikhwan Pemilih

Suatu ketika di sebuah negeri ada seorang ikhwan yang sedang mencari tambatan hati. Berulang kali nadzar ternyata tak ada seorang akhwatpun yang memikat hatinya. Akhirnya sang wasilah pun menyerah seraya berkata, “Tunggu aja Marshanda cadaran!”. Di belahan negeri lain, ternyata ada ikhwan yang bernasib hampir serupa. Sudah belasan akhwat ditawarkan oleh wasilah. Akan tetapi, kini satu-persatu, akhwat-akhwat yang ditolaknya sudah menemukan pemimpin dalam rumah tangganya, meninggalkannya dalam kesendirian. Sedangkan di penjuru negeri terdengar keluh kesah seorang ummahat, “Mintanya yang cuantik. Ya gak sanggup lah!”

Yah, fenomena ini memang bukan sekali dua kali terjadi. Banyak ikhwan pendamba bidadari, walaupun merasa dirinya sudah ngaji, walaupun tahu bahwa agama adalah tolok ukur akhwat sejati, walaupun nyadar bahwa dirinya tidak ganteng-ganteng sekali.

Wahai ikhwan pemilih, ketahuilah! Shalihah, cantik, kaya, keturunan orang yang baik, pandai, masak, peyabar, qona’ah, subur, dan sederet sifat baik lain amat sangat sulit untuk bersatu dalam diri seorang akhwat. Banyak akhwat shalihah tetapi tak pandai masak. Banyak akhwat yang cantik tetapi tidak subur. Banyak akhwat yang kaya tetapi tidak qona’ah, banyak akhwat keturunan orang yang baik tetapi tidak penyabar. Begitulah Allah menakdirkannya dengan segala hikmah dan maslahatnya.

Mungkin bisa saja si ikhwan berkilah, “Kan untuk menundukkan pandangan”. Boleh-boleh saja mendambakan si penjaga pandangan yang cantik jelita, akan tetapi realistislah! Sebagaimana manusia pada umumnya, jumlah artis yang rupawan tentu lebih sedikit daripada wanita yang biasa saja. Begitu pula dengan akhwat. Dan kalaupun ada high quality jomblo yang memenuhi kriteria, bukankah si akhwat belum tentu mau? Pernahkah terbesit dalam pikiran bahwa high criteria yang dipatok adalah “buah” dari pandangan yang tidak terjaga?

Ah seandainya para ikhwan pemilih itu tahu bahwa banyak sekali nikmat yang Allah anugerahkan dalam pernikahan, bukan keindahan fisik semata. Seandainya mereka juga tahu bahwa kadang fisik yang cantik justru bisa menyebabkan petaka dalam rumah tangga. Seandainya mereka tahu bahwa jelitanya wanita akan lapuk dimakan usia. Allahul musta’an.

Pesan-Pesan Untuk Isteri

Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

Anas berkata, “Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya.”

Ummu Humaid berkata, “Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada ‘Aisyah dan memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mendo’akannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta memenuhi hak suami”[1]

‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, “Janganlah engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu adalah perhiasan paling indah, dan farfum yang paling baik adalah air.”

Read the rest of this entry »

Wisuda S3

Sore itu, setengah tahun yang lalu… Terlepas sudah gelar mahasiswa dari pundakku. Digantikan dengan gelar sarjana sains yang melekat di belakang namaku.

Ah Pena… Seandainya kau rasakan kebahagiaanku ketika itu. Isak haru ibu, ucapan selamat dari dosen dan sahabat. Sore itu, senyum tak lepas dari bibirku.

Ah Pena… Sedikit gamang menyelimutiku ketika itu. Apa yang akan aku lakukan setelah lulus?

Read the rest of this entry »

Kisah Nyata yang Mengagumkan

‘Ali bin ‘Abdullah ad-Farbi berkata :

“Diantara cerita yang paling berkesan kepadaku adalah, ada empat orang dari salah satu lembaga bantuan (kemanusiaan) di Kerajaan Arab Saudi diutus untuk menyalurkan bantuan di pelosok hutan Afrika. Setelah berjalan kali selama empat jam dan setelah lelah berjalan, mereka (4 orang utusan ini, pent.) melewati seorang wanita tua di salah satu kemah dan mengucapkan salam kepadanya lalu memberikannya bantuan. Wanita tua itu bertanya kepada mereka : “Kalian dari negara mana?” Mereka pun menjawab : “Kami dari Kerajaan Arab Saudi.”

Read the rest of this entry »

Page 1 of 2:1 2 »